Seputar SeputarCerita, tips, dan rekomendasi yang dipersiapkan dengan rapi.
general

Seputar Fenomena Akun Kedua yang Kini Jadi Kebiasaan Baru

Fenomena akun kedua di Instagram kini jadi kebiasaan anak muda. Ade Wong mengamati tren ini dari Praya dan mengulas alasan di baliknya.

29 May 2026 · 3 menit baca · oleh Ade Wong
Seputar Fenomena Akun Kedua yang Kini Jadi Kebiasaan Baru

Beberapa bulan terakhir saya perhatikan banyak teman, bahkan adik sepupu, yang punya akun Instagram kedua. Bukan untuk bisnis atau branding pribadi, melainkan tempat curhat random, posting meme, atau sekadar menyimpan foto-foto yang tidak layak tampil di akun utama. Dari Praya, saya melihat tren ini menyebar lewat obrolan grup WhatsApp dan unggahan di Timeline. Fenomena yang dulu dikenal dengan sebutan finsta (fake Instagram) ini sekarang sudah menjadi kebiasaan umum generasi muda Indonesia, termasuk di kota kecil seperti tempat saya tinggal.

Kenapa Orang Kini Lebih Nyaman Pakai Akun Kedua

Alasan utamanya sederhana: akun utama sudah terlalu formal. Ada tekanan untuk tampil rapi, mendapat banyak like, dan menjaga reputasi digital. Akun kedua menjadi ruang bebas tekanan itu. Di sana orang bisa memposting foto blur, curhat patah hati, atau sekadar screenshot obrolan lucu tanpa takut dihakimi teman kerja atau keluarga. Saya sendiri sempat bikin akun kedua tahun lalu. Isinya kumpulan meme receh dan foto makanan yang gagal. Rasanya lega bangeet, gak perlu mikirin caption keren atau filter yang pas sebntar.

Tren ini juga didorong oleh perubahan cara kita memandang privasi. Dulu orang berusaha tampil sempurna di media sosial. Sekarang justru sebaliknya. Banyak yang memilih ‘low profile’ dan lebih suka berbagi hanya dengan lingkaran pertemanan terdekat. Akun kedua biasanya hanya diikuti oleh teman-teman yang benar-benar dekat, sehingga interaksinya lebih santai dan jujur. Di Praya, saya lihat anak-anak muda mulai beralih ke pola seperti ini. Mereka lebih sering update di akun kedua daripada akun utama yang sudah penuh dengan followers yang tidak dikenal.

Akun kedua juga menjadi tempat eksperimen. Orang bisa mencoba username aneh, bio alay, atau story iseng tanpa takut merusak personal branding. Ini semacam laboratorium digital untuk mengekspresikan diri tanpa aturan. Menariknya, beberapa teman saya akhirnya lebih populer di akun kedua justru karena kontennya yang nyeleneh. Ada yang jadi terkenal karena thread kocak soal keseharian di kos-kosan. Dari situ saya belajar bahwa kadang kita butuh ruang untuk tidak serius.

Tidak semua orang setuju dengan tren ini. Ada yang menganggapnya buang-buang waktu atau hanya cara untuk menghindari tanggung jawab di akun utama. Tapi menurut saya, ini adalah respons alami terhadap budaya over-share yang sudah kelewat batas. Akun kedua memberi kita kendali atas siapa yang melihat dan apa yang kita bagikan. Dalam jangka panjang, mungkin ini yang membuat media sosial terasa lebih manusiawi lagi Konteks tambahan ada di seputar terdekat.

Fenomena ini bisa dikaitkan dengan perubahan konsep privasi di media sosial yang terus bergeser. Dulu kita bangga punya ribuan followers, sekarang lebih bangga punya akun kedua yang isinya hanya untuk segelintir orang. Saya rasa tren ini akan terus berkembang, terutama di kalangan Gen Z dan milenial yang mulai lelah dengan pencitraan digital. Mungkin bulan depan saya akan bikin akun ketiga untuk meme kucing. Kalau dipikir lagi, awalnya saya gak nyadar kalau kebutuhan akan ruang pribadi ini begitu besar.

Bahan bacaan: sumber resmi

Tag: #media sosial #tren #Instagram #komunitas online